Rabu, 04 Mei 2011

kalama sutta

Puja bakti dipimpin oleh Stenly Christian.

Kalama sutta adalah kotbah Sang Buddha pada suku kalama. Suku kalama ini adalah suku yang cerdik, mereka tidak begitu saja dengan mudahnya percaya pada apa yng di dengarnya. Banyak pemuka agama yang datang kepada suku ini dan menguraikan ajarannya dengan panjang lebar, kemudian mengagungkan agamanya sendiri dan menjelek-jelekan agama yang lain. Para pemuka agama ini datang secara bergantian. Akibatnya suka kalama ini mengalami kebingungan tentang mana yang harus mereka percayai. Kemudian saat sang Buddha melewati tempat ini, para pemuka suku kalama ini bertanya pada Sang Buddha mengenai mana pandangan yang harus mereka percayai. Sang Buddha lalu berkata :

“sudah sewajarnya oh suku kalama, jika anda bingung…”

Sang Buddha kemudian menguraikan :

“suku kalama, jangan percaya begitu saja pada apa yang kamu dengar..

Jangan percaya begitu saja pada apa yang sudah tertulis di kitab suci..

Jangan percaya begitu saja karena itu sudah tradisi..

Jangan percaya begitu saja karena itu kabar angin..

Jangan percaya begitu saja karena itu dikatakan oleh guru atau orang yang kita hormati..

Tapi.. oh suku kalama, setelah kamu selidiki sendiri, kamu lakukan,dan jika itu di puji oleh para bijaksana, maka lakukanlah, dan jika itu di cela oleh para bijaksana, maka tinggalkanlah.. “

Setelah orang melanggar sila, membunuh, mencuri, berbuat asusila, berbohong dan mabuk-mabukan , ternyata hal itu dicela oleh para bijaksana, maka tinggalkanlah..

Setelah orang yang menjalankan sila, dengan tidak membunuh, tidak mencuri, tidak asusila, tidak berbohong, dan tidak mabuk-mabukan, ternyata dipuji oleh para bijaksana, maka lakukanlah..

Apabila di saat masih terikat dengan moha, dosa dan lobha seseorang tidak bahagia, maka tinggalkanlah..

Apabila dengan bebas dari moha, dosa dan lobha kita akan berbahagia, maka lakukanlah..

Ariya yamg demikian itu, yang hatinya terbebas dari permusuhan, terbebas dari perasaan tertekan, tidak ternoda dan bersih, orang itu dalam kehidupan ini juga akan memperoleh empat berkah yang menyenagkan, yaitu :

Kalau sekiranya ada alam lain setelah meninggal dunia, ada akibat dari perbuatan baik dan jahat; saat badan dan jasmaninya hancur setelah mati, ia akan bertumimbal lahir di alam surga.

Kalau sekiranya tidak ada alam lain setelah meninggal dunia, tidak ada akibat dari perbuatan baik dan jahat; namun dalam kehidupan ini ia telah terbebas dari perasaan bermusuhan dan tertekan.

Kalau sekiranya bencana menimpa yang berbuat jahat; namun aku sama sekali tidak bermaksud berbuat jahat terhadap siapapun juga. Mana mungkin bencana dapat menimpa diriku yang tidak berbuat jahat?

Kalau sekiranya tidak ada bencana menimpa yang berbuat jahat, maka aku tahu bahwa diriku besih dari kedua segi.

Keyakinan dalam buddhis bukanlah keyakinan yang membabi buta, melainkan keyakinan yang dilandasi pengertian benar. Jadi untuk dapat benar-benar yakin dengan dengan ajaran sang Buddha, maka kita harus mengerti terlebih dahulu ajaran buddhis.

Kalau pengertian kita pada ajaran sang Buddha belum mantap, maka keyakinan kita artinya masih lemah. Sehingga, kalau ada angin sedikit saja kita akan mudah goyah.

Sang Buddha tidak pernah memaksa suku kalama untuk menjadi umat Buddha. Karena dengan itu keyakinan mereka akan lemah. Sang Buddha sengaja membiarkan suku kalama mengerti sendiri dengan ajaran sang Buddha agar keyakinannya juga menjadi kuat.

Inti dari kalama sutta ini mengajarkan kita ketika mendengar , melihat, membaca, menyaksikan jangan mudah percaya, tapi harus di teliti dimegerti, dipahami, dan di praktekan sendiri, sampai kita tahu kalau ini memang mengarah pada hal baik dan memuaskan, lanjutkan, namun jika itu mengarah pada hal yang tidak baik dan menyebabkan penyesalan, maka tinggalkanlah. Jadilah orang yang tidak mudah tertipu dan hanyut.

Tanya jawab :

1. ce ponga : dalam tradisi, pada saat ada orang meniggal, harus menggunakan daging, karena katanya kalau tidak menggunakan daging, nanti orang yang meninggal tidak bisa makan daging. Bagaimana menurut bhante?

Jawaban : tidak mungkin kita bisa mengirim daging dari alam manusia kepada mereka.bentuk kehidupan alam manusia dengan mereka saja sudah berbeda. Kecuali ia terlahir di alam manusia, itupun yang member makan bukan kita lagi, tapi orang tuanya di kehidupan baru. Kita sebagai keluarga memang ada kewajiban untuk patidana atau pelimpahan jasa. Apa harus melakukan upacara dengan daging ayam, ikan, kambing dan sejenisnya?? Kalau menurut buddhis, upacara itu di lakukan sesederhana mungkin. Karena sebenarnya tujuan upacara adalah mewujudkan rasa bakti kepada leluhur, apapun bentuknya, yang terpenting adalah niatnya. Daripada mengadakan upacara besar-besaran tapi tidak ikhlas, lebih baik mengadakan upacara sederhana, tapi ikhlas melakukannya. Tapi, kalau kita masih berada dalam lingkup keluarga kita, dan masih ada yang lebih senior, maka janganlah juga langsung mengatakan tidak boleh pakai daging dan sejenisnya, kita masih harus menghormati yang senior daripada kita. Secara pelan-pelan tradisi itu berusaha di perbaiki, tidak secara instant. Tradisi itu tidak semuanya salah. Ada tradisi yang baik, yang perlu untuk terus dilakukan, seperti berkumpul saat imlek.



1. Jeni : apakah jika kita memotong daging untuk upacara kematian, orang yang meninggal itu tidak ikut takut dengan akibat dari [erbuatan jahat kita itu??

Jawaban : itu tergantung, apakah leluhur kita itu mengetahui atau tidak. Oleh karena itu, untuk menghindarinya, maka lebih baik menggunakan daging yang sudah dipotong sebelumnya, dengan beli di pasar, jangan menyuruh orang memotongnya. Bisa saja leluhur kita itu sudah terlahir menjadi manusia lagi, atau sudah terlahir di alam bahagia, maka dia tidak mengetahui lagi. Namun jika kitra memikirkan kalau kita sudah berulang kali terlahir, sudah pasti alam menderita juga di penuhi dengan leluhur kita.



1. pak seger : berkaitan dengan kalama sutta, sekarang banyak aliran agama Buddha, ada yang bahkan berbeda atau bertentangan, apa cirri-ciri dari agama Buddha, agar kita mengetahui aliran mana yang masih termasuk buddhis??

Jawaban : karena banyaknya pemikiran, maka terjadilah perbedaan-perbedaan.

Ciri dari ajaran Buddha adalah :

1. Masih dekenal tiratana

2. Masih ada hukum kamma

3. Masih ada hukum empat kesunyataan mulia

4. Masih ada tilakkhana

5. Masih ada paticcasamupada

6. Masih ada nibbana

7. Masih memandang bahwa sang Buddha itu adalah guru

Dan inti dari ajaran semua Buddha adalah : jangan berbuat jahat, berbuatlah kebaikan, membersihkan hati dan pikiran. Jika masih terdapat ciri seperti itu, maka itu masih masuk dalam kategori buddhis.

1. ko kiong : kadang ada keluarga yang bermimpi keluarganya yang sudah meninggal kedinginan, lalu ada yang membakar baju untuk dikirimkan padanya, apa itu bisa sampai ?

Jawaban : tidak bisa dipastikan apakah itu bisa sampai atau tidak. Sebab terkadang kita bisa bermimpi kalau baju itu telah sampai karena persepsi yang terlalu kuat dalam diri kalau baju yang di bakara itu telah sampai. Namun menurut buddhis, cara yang tepat adalah dengan membeli baju asli dan membagikannya pada yang membutuhkan. Dengan begitu sanak keluarga yang telah meninggal bisa turut simpati atas kebaikan yang telah dilakukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar